‘Saya ingin penonton merasakan adrenaline rush’: Pencinta drone Indonesia bubungkan hobi menjadi karier

Lingkungan komunitas menyodorinya kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan trik, sekaligus mencerap berbagai info terbaru terkait tren dan perkembangan dunia drone. Persaingan penuh persahabatan dalam komunitas juga mendorongnya untuk terus mengasah kemampuan.Di tahun 2019, ia membeli drone balap first-person view (FPV) pertamanya — tipe pesawat nirawak yang mampu menjelajahi ruang-ruang sempit dengan kecepatan tinggi. “Gue selalu penasaran tiap kali lihat video-video drone FPV di sosmed. Orang-orang kan tadinya pakai itu cuma buat balapan. Tapi lama-lama banyak yang pakai untuk bikin karya sinematik yang unik. Gue memutuskan untuk nyoba pakai drone FPV. Tujuannya bukan untuk jadi atlet, tapi untuk memperkaya konten (media sosial) gue,” ujarnya. Dalam waktu singkat, Rifky keranjingan drone FPV. "Gue buru-buru berangkat kerja supaya gue bisa pakai ruangan kantor sendirian. Gue selalu bawa satu tas yang isinya penuh perlengkapan FPV: goggles, remote control, antena. Gue latihan di ruangan sempit di kantor dan di apartemen buat ningkatin reaksi sama control," jelasnya. Menabrakkan drone berkali-kali adalah bagian dari proses belajarnya. TAWARAN DEMI TAWARAN Menurut Rifky, awalnya ia tidak punya niat untuk menjadi pilot drone profesional. Di penghujung 2018, hal itu berubah ketika satu perusahaan perakit drone menghubunginya untuk meminta izin menggunakan salah satu fotonya sebagai materi promosi. “Mereka bilang mau lisensi foto gue selama setahun,” ujarnya, menyebutkan angka US$500 untuk satu foto itu saja.  “Pastinya seneng lah kalo kita ngeliat foto kita dipakai di sebuah campaign. Sayangnya, gue gak pernah tahu foto gue itu dipakai di mana. Gue coba tanya, tapi mereka enggak pernah jawab.”

‘Saya ingin penonton merasakan adrenaline rush’: Pencinta drone Indonesia bubungkan hobi menjadi karier

Lingkungan komunitas menyodorinya kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan trik, sekaligus mencerap berbagai info terbaru terkait tren dan perkembangan dunia drone. Persaingan penuh persahabatan dalam komunitas juga mendorongnya untuk terus mengasah kemampuan.

Di tahun 2019, ia membeli drone balap first-person view (FPV) pertamanya — tipe pesawat nirawak yang mampu menjelajahi ruang-ruang sempit dengan kecepatan tinggi.

“Gue selalu penasaran tiap kali lihat video-video drone FPV di sosmed. Orang-orang kan tadinya pakai itu cuma buat balapan. Tapi lama-lama banyak yang pakai untuk bikin karya sinematik yang unik. Gue memutuskan untuk nyoba pakai drone FPV. Tujuannya bukan untuk jadi atlet, tapi untuk memperkaya konten (media sosial) gue,” ujarnya.

Dalam waktu singkat, Rifky keranjingan drone FPV. "Gue buru-buru berangkat kerja supaya gue bisa pakai ruangan kantor sendirian. Gue selalu bawa satu tas yang isinya penuh perlengkapan FPV: goggles, remote control, antena. Gue latihan di ruangan sempit di kantor dan di apartemen buat ningkatin reaksi sama control," jelasnya.

Menabrakkan drone berkali-kali adalah bagian dari proses belajarnya.

TAWARAN DEMI TAWARAN

Menurut Rifky, awalnya ia tidak punya niat untuk menjadi pilot drone profesional.

Di penghujung 2018, hal itu berubah ketika satu perusahaan perakit drone menghubunginya untuk meminta izin menggunakan salah satu fotonya sebagai materi promosi. “Mereka bilang mau lisensi foto gue selama setahun,” ujarnya, menyebutkan angka US$500 untuk satu foto itu saja.

 “Pastinya seneng lah kalo kita ngeliat foto kita dipakai di sebuah campaign. Sayangnya, gue gak pernah tahu foto gue itu dipakai di mana. Gue coba tanya, tapi mereka enggak pernah jawab.”